Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Sabtu, 14 Mei 2016

Rasul adalah Orang Yang Buta Huruf

Akhirnya sampai juga sanggahan dari beberapa orang yang mengatakan bahwa Rasullullah saw bukanlah seorang yang buta huruf. Menurut mereka Tidak mungkin seorang Rasul dengan sifat fathonah (cerdas) adalah seorang yang buta huruf.

Belajar membaca atau pun menulis bukanlah suatu pengetahuan atau ketrampilan yang sulit untuk dipelajari, bahkan seorang anak berumur 6 tahun sekali pun dapat mempelajarinya dalam waktu beberapa bulan saja. Jadi menurut sebagian orang tidak mungkin Rasullullah saw adalah seorang buta huruf.

Selain itu, beberapa prang juga mendasari alasan mereka tersebut adalah berdasarkan suatu kisah atau riwayat dimana Rasullullah saw ketika mendiktekan isi dari perjanjian Hudaibiyah kepada Ali bin Abi Thalib ra, karena isinya menurut Ali bin Abi Thalib ra sangat merugikan bagi umat Islam saat itu maka beliau menolaknya, sampai kemudian Rasullullah saw sendiri lah yang menuliskannya.

Alasan lainnya menurut mereka adalah dari beberapa ayat dalam al-Quran sendiri justru ada yang menyebutkan bahwa Rasullullah saw membacakan ayat-ayat suci al-Quran kepada kaumnya. Sebagaimana ayat berikut ini contohnya:
كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولاً مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمْ الْكِتَابَ
وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ

“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS 2:151)

Demikian juga dalam ayat-ayat al-Quran lainnya banyak yang menyebutkan hal-hal seperti di atas (seperti QS 62:2) yang menyatakan bahwa Rasullullah saw membacakan ayat-ayat Allah kepada kaumnya.

Baiklah, penjelasan terhadap sanggahan mereka tersebut tadi adalah sebagai berikut ini:

Perama tentang riwayat pada saat penyusunan perjanjian Hudaibiyah, riwayat tersebut adalah janggal. Selain itu juga tidak sesuai dengan penggambaran al-Quran tentang orang-orang beriman di sekeliling Nabi saw saat itu. sahabat-sahabat Rasullullah saw adalah terdiri orang-orang yang sangat patuh dan taat kepada Nabi, termasuk diantara mereka adalah Ali bin Abi Thalib ra, sehingga riwayat tentang pembangkangan Ali bin Abi Thalib dalam riwayat di atas tadi adalah tidak sesuai dengan kenyataan. Mereka orang-orang yang beriman yang taat kepada Allah dan RasulNya. Kisah tentang ketaatan para sahabat dan kerabat terdekat Rasullullah saw ini digambarkan dalam al-Quran sebagai berikut ini.
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ
لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

“Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (QS 2:285)

Kemudian yang kedua adalah penjelasan tentang kalimat membacakan dalam surat al-Baqarah ayat 151 di atas tadi. Dalam ayat tersebut tadi kata yang dipergunakan dalam bahasa arab aslinya adalah tilawah, bukan qiraah. Dimana tilawah tidak identik dengan membaca sebagaimana misalnya kita membaca koran atau majalah, akan tetapi membacakan dalam ayat tersebut adalah mengandung arti mengajarkan kaumnya untuk menuruti atau mengikuti ayat-ayat Allah swt.

Jadi dengan demikian dalam ayat tersebut tadi tidak berarti bahwa Rasullullah saw membawa sebuah kitab dan kemudian beliau membaca kitab tersebut sebagaimana yang dipersangkakan. Akan tetapi Rasullullah saw adalah seorang hafidz penghafal al-Quran yang baik, sehingga beliau tidak pernah membawa lembaran kitab untuk dibacakan pada saat menyampaikan dakwahnya kepada kaum Quraisy pada saat itu.

Sebagai penutup kesimpulan, bahwa Rasullullah saw adalahmemang benar-benar seorang ummiyyin. Hal ini adalah juga berdasarkan firman Allah dalam al-Quran.

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنجِيلِ
يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنْ الْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمْ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمْ الْخَبَائِثَ
وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالأَغْلاَلَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ
وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنزِلَ مَعَهُ أُوْلَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS 7:157)

Rasullullah saw adalah Nabi yang ummiyyin juga ditegaskan kembali sekali lagi oleh Allah swt dalam ayat berikutnya.

قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ
لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِ وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ
وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS 7:158)

Demikianlah, sebagaimana juga guru mengajarkan murid-muridnya untuk ber-Sholawat kepada Nabi yang Ummiyyin. Karena memang benar Rasullullah saw adalah seorang yang ummiyyin. Suatu Sholawat yang berbeda dengan kebanyakan sholawat yang dinyanyikan atau didendangkan oleh banyak orang dewasa ini.

Sholawat yang diajarkan oleh guru ini adalah sebagai bentuk penghambaan yang lemah dan rendah seorang mahluk di hadapan Allah azza wa jalla. Bukan Sholawat yang mengagungkan Rasul di hadapan Allah, atau Sholawat yang menyatakan Rasul sebagai raja di hadapan Allah. Tetapi Rasul adalah mahluk dan hamba Allah yang lemah di hadapan Allah swt, Rasul yang buta huruf. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.59