Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Selasa, 20 Desember 2016

Mengutamakan Kehidupan Akhirat

Setiap mahluk hidup memiliki insting yang kuat untuk senantiasa mencari dan mendapatkan kebahagiaan. Baik itu kebahagiaan yang semu maupun kebahagiaan yang sejati. Itulah bagian dari permainan ilusi dari kehidupan di dunia ini.

Anda rela untuk bekerja siang dan malam, banting tulang dan jatuh bangun demi untuk meraih kebahagiaan hidup di dunia. Semua orang bercita-cita mengejar kesuksesan. Padahal di dunia ini tidak akan bisa anda dapatkan kebahagiaan yang sejati. Kebahagiaan yang sejati tidak terdapat di bumi ini. Itulah kenyataan yang sebenarnya.

Dan banyak orang yang telah tertipu oleh ilusi, melihat dari kejauhan sepertinya di ujung kesuksesan sana akan dapat ditemukan kebahagiaan sejati. Padahal kenyataannya tidak ada.

Hidup di dunia adalah sebuah permainan atau sendau gurau belaka: sandiwara yang hanya berlangsung sesaat dibandingkan dg kehidupan yg telah kita lewati dan yang akan kita lewati. Tanpa anda sadari bahwa sebenarnya Allah swt telah menciptakan ruh anda sebelum alam semesta ini dibuat, jadi sesungguhnya anda telah hidup sebelum ini lebih dari 19 milyar tahun lamanya. Dan nanti, di kehidupan akhirat kelak, anda akan hidup jauh lebih lama lagi dari itu.

Nah, kira-kira berapa tahun anda akan hidup di dunia ini? Coba bandingkan dengan kehidupan yang telah anda lewati dan juga kehidupan yang akan anda hadapi kelak. Sungguh hanya sesaat saja bukan?

Jadi kehidupan dunia ini seperti permisalan seperti halnya jika anda ditugaskan untuk bermain sandiwara selama satu jam saja. Anda diberi peran oleh sang sutradara menjadi seorang pengemis. Anda tidak akan menolaknya bukan? Karena toh ini hanyalah sebuah permainan sandiwara belaka, bukan kehidupan yang sesungguhnya. Jadi, mengapa anda harus merasa menderita dengan peran yang diberikan sutradara tersebut? Selepas adegan selama 1 jam usai, maka anda akan kembali kepada kehidupan anda yang sesungguhnya.

Nah, begitu juga dengan kehidupan di dunia ini. Itulah tamsil kehidupan yang dilihat Allah swt terhadap kehidupan dunia ini, sebagaimana firman-Nya dalam al-Quran:
وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS 29:64)

Beberapa tahun lalu ada sebuah film yang diangkat dari kisah nyata, Surat Kecil Untuk Tuhan. Film ini menceritakan Gita Sesa Wanda Cantika atau yang dikenal dengan nama panggilan Keke, seorang gadis remaja berusia 13 tahun yang cukup beruntung, karena lahir dari keluarga yang sangat berada. Selain itu Keke juga dikelilingi enam sahabat karib yang selalu setia menemaninya dan hidupnya pun semakin lengkap dengan kehadiran seorang kekasih yang juga begitu menyayanginya.

Semuanya tampak begitu sempurna, hingga pada tahun 2003 kanker menghinggapinya, Keke adalah pengidap Rhabdomyosarcoma (Kanker Jaringan Lunak) pertama di Indonesia. Gadis cantik itu pun berubah menjadi "monster" hingga terpaksa harus menjalani serangkaian kemoterapi dan radiasi hampir setahun lamanya, akibatnya, semua rambut Keke sedikit demi sedikit mulai rontok, kulitnya mengering, dan sering mual-mual. Ketekunan Keke dan keluarganya untuk berobat membuahkan hasil. Keke dinyatakan sembuh dan bisa kembali menjalani aktivitas seperti sediakala.

Tak disangka, setahun kemudian, pada 2004, kanker itu kembali, lebih parah dan mematikan. Meskipun sudah ditolak di rumah sakit mana-mana, ayah Keke tidak pernah sekali pun menyerah untuk menyembuhkan anaknya, terbukti bahwa ia sanggup pergi ke pedalaman bahkan keluar negeri hanya untuk menyembuhkan Keke. Meskipun ratusan dokter memprediksi bahwa hidup Keke tidak akan lebih dari tiga bulan, Keke berhasil bertahan untuk lebih dari setahun. Meskipun pada akhirnya, Keke harus menerima kenyataan bahwa ia memang tidak dapat disembuhkan karena kanker itu sudah terlalu menyebar. Keke akhirnya menghembuskan napas terakhir.

Itulah tamsil kehidupan di dunia ini, dimana anda akan menemukan kisah sedih, kisah kebahagiaan, senang, marah, kesal atau sedih, semua datang silih berganti. Terjadi di dunia ini.

Akhir dari setiap kehidupan dunia adalalah kematian. Kehilangan dan perpisahan. Jadi tidak peduli seberapa besar cinta anda akan sesuatu atau seseorang, maka anda akan berpisah dengannya di ujung sebuah kematian.

Coba sekarang anda lihat dan perhatikan orang-orang di sekeliling anda, keluarga yang anda cintai, teman dekat yang anda sayangi. Mereka itu semuanya kelak akan berpisah dengan anda, karena anda akan menemui kematian di ujung hidup anda di dunia ini. Pasti.

Jadi rupanya begitulah nasib setiap sumber kebahagiaan di dunia ini, apa pun itu dan tidak peduli seberapa besar kecintaan anda dengannya, maka semua akan berkhir dengan perpisahan dan kematian. Sungguh tragis bukan? Jadi setiap kebahagiaan hidup di dunia akan selalu berujung dengan perpisahan. Apabila anda tidak siap menghadapi perpisahan itu, maka sudah pasti anda akan menemukan kesengsaraan dan penderitaan di akhir hidup anda di dunia ini.

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاَقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ
وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS 62:8)

Maka setelah kematian merenggut siapa saja di dunia ini, mereka yang hidup berbahagia, mereka yang hidup menderita, mereka yang kaya ataupun mereka yang miskin, semuanya akan berujung pada kematian. Setelah sandiwara singkat ini, maka kita akan memasuki kehidupan abadi, itulah kehidupan yang sebenarnya.

Banyak orang yang sudah mengetahui hakekat kehidupan seperti itu, tetapi sedikit sekali yang mau memahami dan menyadarinya. Sedangkan kebanyakan dari kita, secara jujur, ternyata banyak yang masih mengutamakan kehidupan dunia.

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
وَالآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

“Tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS 87:16-17)

Pada suatu malam pengajian, guru kita berpesan bahwa sikap hidup yang harus dijalani oleh kita semua adalah mengutamakan kehidupan akhirat, maka pasti kita akan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia ini dan juga kebahagiaan hidup di akhirat kelak. Kebahagiaan yang abadi.

Apabila anda berada dalam sekelompok orang-orang yang memiliki prinsip seperti ini, maka berbahagialah. Karena anda dan sahabat-sahabat anda dalam kelompok tersebut akan dipertemukan kembali dan dipersaudarakan Allah swt kelak di akhirat nanti. Itulah persahabatan yang abadi, dan anda tidak akan berpisah dengan sahabat-sahabat yang anda sayangi itu melainkan sebentar saja.

Adapun segala macam jenis persahabatan di luar itu, maka persahabatan itu akan pecah menjadi permusuhan di neraka kelak. Yang satu akan menyalahkan yang lainnya. Itulah cerita sebenarnya yang akan terjadi, yang disampaikan Allah swt dalam al-Quran.

Anda boleh saja memiliki 1001 filosofi dalam mengarungi kehidupan ini, akan tetapi tidak satu pun yang akan menjamin kebahagiaan abadi selain dari: mengutamakan kehidupan akhirat sepanjang kehidupan di dunia ini. Itulah satu-satunya filosofi yang diajarkan Allah swt kepada Rasul-RasulNya, yang menjamin kehidupan yang bahagia selama-lamanya. Bahagia hidup di akhirat kelak, dan juga bahagia hidup di dunia ini. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 21.19