Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Selasa, 31 Januari 2017

Budaya Tahlilan dan Yasinan

Di masyarakat muslim Indonesia telah menjadi budaya yang berkembang sejak dahulu, yaitu ketika salah seorang anggota masyarakat ada yang meninggal dunia, maka biasanya diadakan acara Tahlilan dan Yasinan pada malam harinya. Acara Tahlilan dan Yasinan tersebut merupakan acara zikir dan berdoa bersama di rumah tempat orang yang meninggal dunia.

Meninggal dunia, atau kematian, adalah sesuatu hal yang pasti akan terjadi pada setiap individu anggota masyarakat. Allah swt akan mengirimkan utusan-Nya kepada seseorang, dan utusan tersebut diberi tugas untuk mewafatkan orang tadi.

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمْ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لاَ يُفَرِّطُونَ
“Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh utusan-utusan Kami, dan mereka itu tidak melalaikan kewajibannya.” (QS 6:61)

Kemudian setelah seseorang itu wafat, maka anggota masyarakat yang ada di sekitarnya memiliki kewajiban untuk mengurus jenazah orang tersebut, mulai dari memandikannya, mengkhafaninya, mensholatkannya sampai dengan menguburkannya.

Nah, apa yang terjadi setelah jenazah tadi selesai dikuburkan? Dalam masyarakat kita ada beberapa perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan haram hukumnya mengkonsumsi makanan ataupun minuman yang disediakan oleh anggota keluarga yang ditinggalkan. Ada pula yang menyatakan bahwa mengadakan acara Tahlilan dan Yasinan di malam hari setelah kematian tersebut adalah bid’ah dan dilarang.

Apa yang diajarkan oleh guru kita terhadap perkara seperti ini?

Guru kita mengajarkan kepada murid-muridnya, bahwa menyuguhkan hidangan kepada para tamu yang datang untuk menyatakan bela sungkawa ke kediaman jenazah adalah diperbolehkan, sepanjang hal tersebut tidak memberatkan bagi keluarga yang ditinggalkan. Tidak memaksakan harus ada, apalagi jika untuk keperluan menyediakan hidangan tersebut sampai harus dengan jalan berhutang, maka hal tersebut tidak boleh dan dilarang. Akan tetapi apabila tidak memberatkan, maka menyediakan hidangan bagi para tamu yang datang untuk melayat jenazah adalah hal yang diperbolehkan.

Kemudian pada malam harinya, mulai dari malam pertama sampai dengan malam ke-7 dan malam yang ke-40 atau yang ke-100 apabila hendak diadakan acara zikir dan doa bersama yang dinamakan dengan istilah Tahlilan dan Yasinan, maka menurut guru kita hal tersebut boleh-boleh saja. Tidak ada sesuatu yang buruk dalam acara zikir bersama.

Melarang sesuatu kebiasaan baik, seperti berzikir dan berdoa bersama, dengan dasar bahwa hal tersebut tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw, para sahabat ataupun para tabi’in adalah suatu pendapat yang lemah. Pertama karena tidak banyak yang mengetahui apa sebenarnya yang dilakukan oleh Rasulullah saw dan sahabat-sahabat terdekatnya ketika seorang muslim meninggal dunia, tidak ada yang mengetahuinya dengan pasti.

Rasulullah saw sendiri wafat pada hari Senin waktu dhuha, dan baru dimakamkan pada malam Rabu, tengah malam. Pada saat beliau dimakamkan, tidak lebih dari sepuluh orang sahabat terdekatnya saja yang membantu pemakamannya di kediaman beliau, di emperan masjid Nabawi. Apa yang dilakukan oleh sahabat-sahabat terdekatnya sebelum dan setelah beliau dimakamkan? tidak banyak orang yang mengetahuinya.

Kemudian alasan kedua, ialah suatu budaya yang baik seperti berzikir dan berdoa bersama, meskipun tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw, bukan berarti bahwa budaya tersebut menjadi bid’ah. Karena bid’ah adalah memberlakukan suatu hukum syariat baru yang tidak pernah disyariatkan sebelumnya oleh Allah swt atau oleh Rasulullah saw. Dalam hal melaksanakan Tahlilan dan Yasinan, maka tidak ada hukum syariat baru yang diberlakukan. Jadi Tahlilan dan Yasinan bukanlah bid’ah.

Sama halnya dengan sholat Tarawih berjamaah di bulan Ramadhan, maka itu adalah budaya yang baru diberlakukan pada zaman Khalifah Umar ibn Khatab. Budaya seperti itu baik dan tidak harus dilarang meskipun tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Guru kita menyatakan bahwa melaksanakan acara zikir dan doa bersama dalam Tahlilan dan Yasinan adalah sesuatu budaya yang baik dan diperbolehkan. Asalkan orang-orang yang berzikir dan berdoa, mereka melakukan itu semua dengan hati yang tulus dan ikhlas. Guru melarang segala jenis imbalan atas zikir dan doa yang dilakukan, karena Allah swt tidak menyukai segala macam bentuk ibadah yang didalamnya terdapat imbalan atau keuntungan.

Demikianlah tulisan ini dibuat atas dasar wejangan dan pengajaran dari guru kita tentang masalah Tahlilan dan Yasinan yang sampai dengan saat ini masih menjadi perbedaan pendapat di kalangan umat. Hal ini disebabkan karena di satu sisi terdapat ahli-ahli hukum syariat yang mendasarkan segala pendapatnya berdasarkan dalil hadits dan pendapat imam-imam mazhab. Sedangkan di sisi lainnya terdapat ulama-ulama yang lebih melihatnya dari sisi hikmah dan budaya.

Adapun guru kita, beliau mengambil pendapatnya berdasarkan petunjuk Allah swt yang diterimanya. Itulah garis lurus yang diajarkan oleh Rasulullah saw agar supaya kita tidak tersesat selama-lamanya, berpegang kepada petunjuk Allah swt. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.51