Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Rabu, 01 Februari 2017

Kita Adalah Bagian Dari Alam Semesta

Judul di atas adalah kata-kata dari guru kita pada saat memberikan wejangan kepada murid-muridnya di suatu malam pengajian. Kata-kata yang sangat sederhana, namun sebenarnya sarat dengan isi, yaitu suatu kesimpulan dari pencarian panjang jati diri manusia di sepanjang sejarah peradaban.

Di tengah-tengah kondisi umat Islam saat ini yang penuh dengan kekeliruan dan kesalahpahaman pengertian, maka kesimpulan tersebut di atas adalah dalam rangka untuk mengoreksi berbagai kekeliruan pemikiran umat Islam saat ini. Hampir keseluruhan umat Islam saat ini merasa bahwa tiap-tiap pribadi mereka adalah perwujudan dari khalifah Allah di muka bumi ini. Oleh sebab itu maka segala macam sumber daya alam yang ada di muka bumi ini harus dimanfaatkan demi kepentingan sang khalifah tersebut. Akibatnya ialah terjadi kerusakan di muka bumi ini. Karena ternyata sifat dasar manusia adalah serakah, sehingga lingkungan alam dikorbankan demi untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan sang khalifah.

Nah, celakanya lagi jumlah khalifah ini tidak cuma satu. Jumlahnya banyak sekali, karena setiap muslim merasa dirinya adalah khalifah di muka bumi ini. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa antara satu khalifah dengan khalifah lainnya memiliki perbedaan pemikiran, perbedaan pemahaman dan perbedaan kepentingan. Maka akibatnya adalah perpecahan dan persilisihan. Karena setiap orang merasa dirinya adalah khalifah.

Dan ternyata kekeliruan konsep tentang khalifah di muka bumi ini bukan hanya terjadi pada umat Islam saat ini saja, bahkan malaikat pun dahulu sebelum manusia diciptakan sudah mempertanyakan hal ini kepada Allah swt. Yaitu bahwa apabila setiap manusia dijadikan sebagai khalifah di muka bumi, maka mereka akan membuat kerusakan padanya.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ
فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS 2:30)

Inilah akibat dari kekeliruan konsep pemikiran kita tentang peran manusia menjadi khalifah di muka bumi. Nah, kata-kata guru kita dalam judul di atas tadi adalah bermaksud untuk mengembalikan pemahaman dan kesadaran umat Islam agar mereka menyadari bahwa sesungguhnya tiap-tiap kita ini tidak lebih dari bagian alam semesta. Oleh karenanya maka kita harus menyatu dengan alam, hidup harmonis bersama alam dan merasakan bahwa kita adalah alam itu sendiri.

Dengan konsep seperti ini, maka otomatis kita dituntut untuk menjaga dan melestarikan alam. Memelihara dan mengatur alam agar supaya seluruh mahluk hidup yang ada di alam semesta dapat hidup secara rukun dan harmonis. Jadi tujuan untuk mengatur alam adalah bukan demi memenuhi kepentingan dan keinginan manusia, akan tetapi demi untuk mensejahterakan alam itu sendiri.

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلاَ تَنسَ نَصِيبَكَ مِنْ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا
أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلاَ تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS 28:77)

Apabila kita memperhatikan tubuh manusia itu sendiri, maka di dalam tubuh kita ada perbuatan-perbuatan yang diulang-ulang. Seperti misalnya bernafas, kita bernafas berulang-ulang kali. Demikian juga jantung kita, berdetak berulang-ulang kali. Demikian juga peredaran darah kita, darah beredar dari dan ke seluruh tubuh berulang-ulang kali. Jadi kita hidup karena di dalamnya tubuh kita melakukan gerakan yang diulang-ulang. Itulah yang disebut dengan hidup, yaitu adanya gerakan yang diulang-ulang.

Demikian juga apabila kita memandang alam semesta ini, bumi dan planet-planet lainnya berputar mengelilingi matahari berulang-ulang. Demikian juga elektron-elektron yang kecil mengelilingi inti atom berulang-ulang. Nah, oleh karena gerakan yang berulang-ulang inilah maka sebenarnya bisa disebut bahwa bumi dan planet-planet lainnya itu hidup. Demikian juga atom-atom yang sangat kecil itu, sebenarnya mereka juga hidup. Sehingga dengan demikian apabila anda melihat alam ini, mulai dari yang paling terkecil sampai dengan yang paling terbesar di pusat galaksi sana, semuanya melakukan gerakan yang berulang-ulang.

Siapakah yang memerintahkan seluruh benda, mulai dari zat terkecil, tubuh manusia sampai dengan benda langit yang terbesar untuk melakukan gerakan yang berulang-ulang itu? Dialah Allah swt. Dia menunjukan tanda-tanda kekuasaannya kepada kita.

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di ufuk semesta dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS 41:53)

Jadi dengan demikian maka manusia itu memang benar-benar bagian dari alam itu sendiri, baik alam mikro kosmos maupun alam makro kosmos. Kita bernafas berulang-ulang adalah karena tubuh kita ini tunduk patuh kepada Tuhan Semesta Alam. Demikian juga bumi, planet, matahari dan bintang-bintang semuanya melakukan gerakan berputar yang berulang-ulang karena tunduk patuh kepada Tuhan Semesta Alam.

Sekarang menjadi jelas kiranya, bahwa kita adalah bagian dari alam semesta ini. Keinginan tubuh kita untuk bernafas adalah sama dengan keinginan bumi untuk mengitari matahari atau keinginan bulan untuk mengitari bumi atau keinginan tiap-tiap elektron untuk mengitari inti atom. Sama saja. Sehingga sesungguhnya kita manusia ini berada di dalam alam semesta, dan alam semesta itu sendiri berada di dalam diri kita.

Coba anda resapi dan rasakan itu, merasakan bagaimana keinginan untuk bernafas. Dari mana asalnya keinginan itu? Maka kelak anda akan menemukan jawabannya, bahwa paru-paru bernafas, jantung berdetak dan darah mengalir berulang-ulang, adalah cara mereka ber-Syahadat. Karena paru-paru, jantung dan darah tidak memiliki mulut, maka begitulah cara mereka ber-Syahadat itu. Demikian juga halnya dengan bumi, bulan, matahari, planet dan bintang-bintang di langit. Mereka tidak punya mulut untuk berucap, maka dengan melakukan gerakan berputar berulang-ulang, itulah cara mereka ber-Syahadat.

Jadi kesimpulannya seluruh zat mulai dari yang terkecil seperti atom, manusia sampai dengan benda langit di alam semesta, semuanya ber-Syahadat. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.51