Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Kamis, 18 Januari 2018

Bekal Untuk Negeri Akhirat

Perjalanan hidup di dunia ini adalah sebentar saja. Rata-rata orang Indonesia saat ini hanya merasakan antara 60 sampai 80 kali musim hujan, dan setelah itu harus menghadapi kematian. Hanya 60 sampai 80 kali musim hujan saja. Tidak terlalu lama.

Matahari dan semua planet di tata surya mengelilingi pusat galaksi bima sakti selama 226 juta tahun lamanya untuk satu kali putaran. Sedangkan umur manusia rata-rata tidak lebih antara 60 sampai dengan 80 tahun saja. Manusia purba semenjak Nabi Adam as baru hidup di muka bumi ini tidak lebih dari 1,5 juta tahun yang lampau. Jadi kita manusia ini adalah mahluk yang paling muda tercipta dan dengan usia hidup rata-rata yang sangat singkat.

Setelah kehidupan di dunia ini sirna, maka perjalanan hidup manusia tidak berhenti. Kita semua akan memulai babak kehidupan yang baru, yaitu kehidupan di negeri akhirat. Suatu kehidupan yang lebih kekal dan abadi.

Kehidupan di dunia yang singkat ini, justru akan menentukan nasib perjalanan hidup berikutnya di alam akhirat nanti. Sedikit saja kita melakukan kesalahan, maka akibatnya akan menentukan perbedaan nasib yang sangat besar di kehidupan akhirat nanti. Jika anda berjalan menuju arah utara, maka sedikit saja anda melenceng (misalnya hanya 1 derajat saja), maka apabila anda terus berjalan maka lama kelamaan anda akan melenceng sangat jauh dari titik utara yang semestinya anda tuju.

Demikian juga halnya dalam kehidupan di akhirat nanti, sedikit saja anda melenceng maka lama kelamaan perjalanan anda tersebut akan melenceng jauh dari titik yang seharusnya anda tuju. Karena di akhirat nanti, anda akan hidup lebih lama dari 60 atau 80 tahun. Anda akan menapaki kehidupan yang sangat lama, bermilyar-milyar tahun lamanya. Sedemikian jauh dan lamanya kehidupan akhirat, sehingga sedikit saja anda melenceng maka lama kelamaan anda akan menapaki jalan kehidupan di akhirat yang melenceng sangat jauh dari titik seharusnya.

Begitu juga sebaliknya, apabila anda mempersiapkan arah tujuan kehidupan di akhirat nanti dengan benar, maka mula-mula antara yang benar dan yang salah hanya berselisih sedikit saja. Namun lama kelamaan, setelah bermilyar-milyar tahun lamanya, perbedaan antara yang benar dengan yang salah akan semakin jauh. Yang benar arahnya akan mendapatkan kehidupan yang sangat baik, sebaliknya bagi yang salah mereka itu akan mendapatkan kehidupan yang sangat buruk. Perbedaan keduanya akan menjadi sangat besar sekali setelah bermilyar-milyar tahun lamanya.

Begitulah tamsil dan permisalan kehidupan di akhirat nanti. Ada manusia yang nasib dan peradabannya semakin merosot dan akhirnya terperosok kedalam neraka. Di lain pihak ada manusia yang nasib dan peradabannya semakin baik. Pada keduanya terdapat perbedaan yang sangat besar.

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS 87:17)

Oleh sebab itulah, maka Allah swt memerintahkan agar supaya manusia mempersiapkan bekal dan arah untuk perjalanan di akhirat yang sangat panjang nanti.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs 59:18)

Nah, berdasarkan tamsil dan cerita yang dijelaskan di dalam al-Quran, maka apakah yang harus kita persiapkan demi untuk bekal kehidupan di akhirat nanti? Ternyata beramal kebajikan dengan mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya tidak cukup.

Guru kita pernah mengajarkan, bahwa bersedekah saja tidak akan cukup. Misalkan anda bersedekah setiap hari di kehidupan dunia ini dengan memberi beras satu liter kepada fakir miskin, selama kurang lebih 10 tahun. Maka menurut hadits, nanti di kehidupan akhirat anda akan mendapat ganjaran pahala sebesar 700 kali lipat. Jadi anda akan mendapat kira-kira beras satu liter per hari selama 7000 tahun lamanya. Cukupkah beras itu? Jawabnya tidak cukup. Karena ternyata nanti anda akan hidup jauh lebih lama dari 7000 tahun. Memang selama 7000 tahun lamanya anda akan menerima beras satu liter per hari, tapi kemudian setelah itu? Anda masih harus hidup bermilyar-milyar tahun lamanya lagi. Dengan apa anda akan hidup?

Jadi kalau demikian halnya, apa yang akan menjamin kecukupan kehidupan kita di akhirat nanti? Jawabannya adalah pahala rezeki dari Allah swt yang tanpa batas. Bukankah ini sebenarnya suatu perhitungan matematika yang sangat sederhana?

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ
وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS 39:10)

Ayat tersebut di atas ini sungguh sangat membuat kita tercengang. Ternyata orang yang akan dicukupkan pahalanya di akhirat nanti tanpa batas bukan orang-orang yang gemar bersedekah, bukan yang banyak pahalanya, bukan yang rajin membaca al-Quran atau sholat tepat pada waktunya. Tetapi adalah orang-orang yang sabar.

Pantas saja guru kita menekankan bahwa misi utama dari Rasulullah saw dahulu sebenarnya adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Dan diantara akhlak yang mulia itu adalah Jujur, Sabar dan Ikhlas. Itulah implikasi utama dari beriman kepada Allah swt, agar membuat kita semua menjadi orang yang Jujur, Sabar dan Ikhlas. Mereka itulah yang kelak nanti di akhirat akan mendapat ganjaran pahala tanpa batas.

Jangan bangga apabila karena bersedekah maka Allah swt memberikan ganjaran kepada anda 700 kali lipat banyaknya. Baik di kehidupan dunia ini maupun di kehidupan akhirat nanti. Jangan bangga apabila anda merasa sudah banyak berbuat baik dan mengumpulkan banyak sekali pahala. Karena semua itu tidak akan cukup. Tidak akan cukup untuk membiayai kehidupan anda di akhirat nanti yang kekal abadi, bermilyar-milyar tahun lamanya.

Setelah semua amal kebajikan dan keburukan telah ditunaikan, tidak ada yang tersisa dan teraniaya karena pahalanya belum mendapat ganjaran. Maka tibalah saatnya hari penyesalan itu akan datang.

وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ إِذْ قُضِيَ الْأَمْرُ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ وَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ
“Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus. Dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak (pula) beriman.” (QS 19:39)

Demikianlah tulisan ini dibuat untuk menegaskan kembali seruan guru kita, agar supaya kita semua menjadi pribadi yang jujur, sabar dan ikhlas. Itulah orang-orang yang nanti akan diganjar dengan pahala yang tanpa batas. Adapun selain itu, pahala mereka adalah terbatas. Suatu saat kelak di kehidupan akhirat nanti mereka akan menyesal. Menyesal karena mereka lalai dalam memperhitungkan kehidupan akhirat nanti.

Ingat, kehidupan akhirat adalah lama sekali dan kekal abadi, maka persiapkan dan perhitungkanlah dengan cermat dan bijaksana. Jangan sampai lalai dan menjadi bodoh, karena ternyata perhitungan matematikanya adalah sangat mudah dan sederhana. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.56