Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Senin, 22 Januari 2018

Mengingat Kematian

Kematian adalah sesuatu yang pasti terjadi pada setiap mahluk, karena hal tersebut sudah menjadi Sunatullah atau Ketetapan Allah swt. Bahwa di dalam suatu hukum kehidupan selalu terjadi kematian di satu pihak dan kelahiran di pihak lainnya. Itulah siklus yang terus menerus terjadi, kematian dan kelahiran, yang mati dan yang hidup.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS 67:2)

Semua mahluk, bahkan bumi, planet, matahari dan bintang sekalipun mengalami kelahiran dan kematian. Jadi kematian dan kelahiran adalah sebuah proses yang alami dan terjadi di seluruh alam semesta. Suatu hukum kehidupan yang berlaku dimana saja.

Adapun terhadap kematian ini, guru kita pernah mengajarkan kepada murid-muridnya agar di dalam kehidupan ini kita senantiasa mengingat kematian. Bukan sekedar mengingat semata, akan tetapi mempersiapkan diri untuk menghadapi dan menyongsong kematian tersebut. Karena hari esok ini adalah sesuatu yang pasti akan terjadi dan menimpa kita semua, hari kematian.

Dengan senantiasa mengingat kematian, maka kita akan menyadari bahwa kehidupan dunia yang kita perjuangkan ini ternyata hanya sebentar saja. Hari esok yang kita cita-citakan, ternyata tidak bisa terlaksana semuanya karena Allah swt telah menetapkan ajal kita.

Kita adalah fana. Dulunya kita itu tidak ada, tidak ada sama sekali. Jadi sadarilah bahwa keberadaan kita di dunia pada hari ini hanyalah sementara saja. Apa saja yang kita miliki saat ini, hanyalah pinjaman sementara saja. Nasib baik dan nasib buruk yang kita alami, pekerjaan dan keadaan rumah tangga yang kita miliki hanyalah milik sementara saja. Bahkan, tubuh yang kita pergunakan ini adalah pinjaman sementara saja. Suatu saat di esok hari, semuanya itu harus kita tinggalkan dan harus kita kembalikan.

Nanti, apabila waktunya telah tiba. Pertanda dan Ketetapan Allah swt sudah diturunkan kepada diri kita, maka nampaklah tanda-tanda kematian itu. Maka bersiap-siaplah sebagaimana seseorang yang hendak pergi melanjutkan perjalanannya, mereka mempersiapkan perbekalan dan mempersiapkan diri mereka. Berbahagialah mereka yang telah mempersiapkan diri mereka dari jauh-jauh hari sebelumnya, sehingga apabila saatnya tiba mereka tidak akan menjadi panik dan terburu-buru karena belum siap.

Apabila telah datang Ketetapan Allah swt, maka tidak akan Dia menangguhkan waktunya barang sejenak sekali pun. Jadi percuma saja untuk melawan dan menghindari kematian.

وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا ۚ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” (QS 63:11)

Jadi, selagi hidup belajarlah untuk menyongsong kematian. Belajar untuk mematikan nafsu diri pribadi: nafsu makan, nafsu amarah, nafsu birahi, dan seluruh keinginan tubuh. Sehingga kelak jika saatnya tiba, kita bisa menguasai diri ini, ikhlas sepenuhnya dengan Ketetapan Allah swt menerima takdir kematian pada hari yang telah ditetapkan.

Melepaskan apa yang kita miliki dengan ikhlas. Mengembalikan tubuh yang kita tempati kepada Pemiliknya. Perlahan-lahan melepaskan dan mengembalikan tubuh ini mulai dari ujung kaki, terus ke atas, ikhlaskan untuk kita lepas dan kembalikan. Jangan dilawan atau ditahan, karena itu hanya akan menyakitkan kita.

Mengumpulkan semua kesadaran yang tersisa di dalam qalbu. Mantapkan hati dan iman kita untuk senantiasa berSyahadat tanpa putus. Biarkan proses kematian itu mengalir secara alami, melepaskan diri ini dengan penuh keikhlasan. Mengatur nafas, agar jangan sampai kita seperti orang tercekik. Perhatikan iramanya, kapan harus menghirup dan kapan harus menghembuskan. Perhatikan sekali lagi cara melepaskan ruh dari badan. Kapan harus menyatakan Asyhadu an-laa ilaaha illallaah, dan kapan harus menyatakan Wa asyhadu anna Muhammad rasuulullaah. Harus benar dan tepat iramanya, sampai menghembuskan nafas yang terakhir menjadi kalimat Syahadat yang lengkap.

Mulus jalan kematiannya sebagaimana mulusnya seorang bayi saat dilahirkan keluar dari rahim ibunya. Tidak sakit dan menderita, bahkan tersenyum dan merasa bahagia karena keikhlasannya. Begitulah seharusnya orang Islam menyelamatkan dirinya pada saat sakaratul maut.

Dahulu, ruh ditiupkan ke dalam tubuh manusia dengan sebuah Persaksian Syahadat, dan ruh dilepaskan dari tubuh manusia juga dengan Persaksian Syahadat. Bukankah ini sebenarnya hanyalah sebuah siklus Syahadat saja? (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 22.21