Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Sabtu, 27 Januari 2018

Mengambil Pelajaran Dari Bencana

Dahulu kala, Indonesia adalah merupakan suatu negeri yang makmur, damai dan aman sentosa. Negeri yang indah dan penuh dengan rahmat Allah swt, baik dari sumber alam maupun iklim cuacanya sangat bersahabat dan menjamin kesejahteraan masyarakatnya.

Dahulu kala, jumlah bencana alam di Indonesia relatif sedikit sekali. Memang terjadi bencana alam seperti gempa bumi, gunung meletus atau pun banjir, akan tetapi jumlahnya relatif masih sedikit sekali dibandingkan dengan sekarang.

Dari data jumlah bencana alam yang tercatat di BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) tren jumlah bencana alam di Indonesia selama 15 tahun terakhir ini adalah meningkat terus. Pada tahun 2002 jumlah bencana di Indonesia hanyalah sekitar 143, akan tetapi pada tahun 2017 lalu jumlah ini meningkat 16 kali lipat lebih menjadi 2341. Berikut ini adalah gambaran grafik tren peningkatan jumlah bencana alam di Indonesia.

Bencana alam merupakan suatu peringatan dari Allah swt bahwa penduduk di negeri ini mulai meninggalkan keimanan mereka terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Semakin banyak orang-orang yang tidak beriman, maka akan semakin banyak pula jumlah bencana alam yang ditimpakan kepada penduduk suatu negeri, dengan maksud agar supaya mereka itu mengambil pelajaran dari bencana yang ditimpakan kepada mereka. Sebagaimana dahulu Allah swt mendatangkan bencana alam berupa banjir yang sangat besar dan menyelamatkan Nuh as beserta segelintir pengikutnya. Itu semua adalah peringatan dari Allah swt.

لِنَجْعَلَهَا لَكُمْ تَذْكِرَةً وَتَعِيَهَا أُذُنٌ وَاعِيَةٌ
“agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar.” (QS 69:12)

Dalam setiap waktu di sepanjang sejarah peradaban manusia, Allah swt senantiasa memberi peringatan dan pelajaran bagi manusia, agar supaya manusia menjadi sadar dan mengambil pelajaran darinya. Dahulu di zaman Nabi dan Rasul Allah masih hidup, mereka memberi peringatan kepada kaumnya untuk beriman kepada Allah swt. Namun setelah para Nabi dan Rasul-Rasul tersebut wafat, maka ayat-ayat Allah di dalam kitab suci yang diwariskan itulah yang merupakan peringatan dan bahan pelajaran bagi manusia.

هَٰذَا بَلَاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ وَلِيَعْلَمُوا أَنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ وَلِيَذَّكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
“(Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS 14:52)

Akan tetapi lama kelamaan manusia tidak mendengarkan peringatan yang disampaikan Allah swt dalam kitab suci. Mereka mendengarkan al-Quran dibacakan, akan tetapi mereka tidak pernah mengkajinya apalagi mengambil pelajaran darinya. Menyangka bahwa apa yang telah diperbuatnya selama ini sudah cukup dan sudah merasa menjadi orang yang beriman. Padahal kenyataannya belum dan masih jauh dari kategori orang yang beriman.

Sehingga kemudian Allah swt menurunkan ayat-ayatNya di alam semesta ini, yaitu berupa peringatan dari alam yang berupa bencana. Tahun 2017 lalu ada 2341 bencana alam di Indonesia, itu artinya pada tahun 2017 yang lalu ada 2341 ayat kauniah diturunkan Allah swt untuk menjadi peringatan bagi bangsa Indonesia agar supaya mereka mengambil pelajaran dari ayat-ayat Allah tersebut.

Guru kita mengharapkan agar supaya para kyai dan ustadz serta penceramah tidak mengatakan bahwa bencana alam tersebut adalah ujian. Karena hal ini justru akan menyesatkan umat Islam di Indonesia, mereka merasa seolah-olah sudah beriman padahal kenyataannya belum.

Apabila suatu negeri penduduknya banyak yang beriman kepada Allah swt, pasti Allah swt akan menurunkan RahmatNya dari bumi dan dari langit berupa berbagai macam karunia dan keberkahan. Akan tetapi apabila penduduk negeri tadi justru mendustakan ayat-ayat Allah, maka Dia akan menurunkan azab yang sangat pedih dikarenakan perbuatan mereka.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ
كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS 7:96)

Demikianlah penjelasan guru kita tentang ayat-ayat Allah yang memberi peringatan dan pelajaran bagi penduduk suatu negeri. Apabila ayat-ayat Allah di dalam kitab suci sudah tidak bermakna bagi penduduk suatu negeri, atau sekiranya makna dari kitab-kitab suci tersebut sudah diselewengkan oleh para ahli kitab, maka Allah swt akan menurunkan ayat-ayatNya di alam semesta ini.

Jangan beranggapan bahwa ayat Allah hanya yang tercantum di dalam kitab suci saja. Segala yang terjadi di alam semesta ini juga merupakan ayat-ayat Allah swt.

Apabila penduduk suatu negeri tadi beriman, maka Allah swt akan menurunkan ayat-ayatNya berupa karunia dan keberkahan dari bumi dan langit. Akan tetapi apabila mereka mendustakan ayat-ayat Allah tersebut maka Allah swt akan menurunkan ayat-ayatNya berupa bencana dan siksa. Itu semua adalah peringatan dan pelajaran bagi manusia bahwa keberkahan dan bencana alam bukanlah suatu kebetulan atau perkara untung-untungan. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.37