Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Rabu, 14 Februari 2018

Mari Mempergunakan Akal?

Beberapa didalam kesempatan pengajian, guru kita sering kali mengingatkan murid-muridnya untuk senantiasa mempergunakan akal terutama untuk hal-hal yang menyangkut ajaran dan pemahaman agama. Mempergunakan akal adalah sesuatu yang sering kali diingatkan, karena ternyata pada hari ini banyak sekali orang Indonesia yang tidak mau mempergunakan akalnya.

Dalam hal urusan ajaran agama dan pemahaman tentang Islam, banyak sekali umat Islam di Indonesia pada hari ini yang enggan untuk mempergunakan akalnya. Seluruh ajaran dan pemahaman ajaran agama Islam diserahkannya bulat-bulat kepada ulama dan ustadz. Sehingga hampir semua orang Islam merasa yakin dan percaya bahwa seluruh ajaran agama Islam yang mereka peroleh dari para ulama dan ustadz tersebut adalah sudah yang paling benar. Tidak mau dan tidak memiliki waktu untuk merenungkan kembali, apakah memang sudah seperti itu yang paling benar?

Hampir kebanyakan dari umat Islam bersikap taklid dan tunduk patuh pada setiap ajaran dan pemahaman agama Islam yang disampaikan oleh masing-masing ulama yang diikutinya. Semua hal yang diucapkan dan diajarkan kepada mereka dianggapnya sudah yang paling benar. Misalnya saja ada seorang ulama atau ustadz yang diikutinya mengajarkan kepada mereka agar supaya menyuruh para wanita-wanita mereka untuk mengenakan cadar. Maka tanpa berfikir panjang, banyak diantara para pengikut ulama atau ustadz tadi dengan serta merta mereka langsung mengikuti ajaran tersebut. Tanpa mau berfikir sejenak dan mempergunakan akal mereka: benarkah Allah memerintahkan Nabi agar supaya seorang wanita berhijab dengan menutup muka mereka mempergunakan cadar? Coba perhatikan baik-baik ayat al-Quran berikut ini.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ
َٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 33:59)

Apakah dengan menutup muka mempergunakan cadar akan menjadikan seseorang itu mudah dikenal? Coba perhatikan tujuan Allah swt dalam memerintahkan mengenakan jilbab pada ayat tersebut di atas, untuk apa tujuannya?

Ada beberapa kalangan dalam umat Islam yang memiliki pemahaman bahwa setiap hadits Nabi adalah Sunnah, dan setiap hadits Nabi itu adalah asli benar-benar dari amanat Rasulullah saw. Padahal jumlah hadits palsu adalah banyak sekali, ratusan ribu banyaknya.

Berapa banyak jumlah hadis palsu ini dapat dibayangkan dengan contoh berikut. Dari 600.000 hadits yang dikumpulkan Imam al-Bukhari, ia hanya memilih 2.761 hadits. Imam Muslim, dari 300.000 hanya memiiih 4.000. Imam Abu Dawud, dari 500.000 hanya memilih 4.800 hadits. Imam Ahmad bin Hanbal, dari sekitar 1.000.000 hadits hanya memilih 30.000 hadits saja.

Nah, menyadari bahwa telah terjadi pemalsuan hadits dalam sejarah Islam secara besar-besaran, maka patut lah kiranya kita pada hari ini mempergunakan akal kita untuk menyaring dan memilah mana hadits yang palsu dan mana yang asli. Mana hadits yang dikhususkan untuk suatu kondisi, keadaan dan lingkungan budaya tertentu dan mana yang bersifat umum dan universal.

Tanpa mempergunakan akal, maka kita umat Islam adalah bagaikan orang yang buta yang tidak mengerti mana yang benar dan mana yang salah. Sehingga kemudian mudah sekali untuk dihasut dan disesatkan oleh orang lain dengan mempergunakan dalil. Hanyalah orang-orang yang mempergunakan akalnya saja yang dapat mengambil pelajaran dari al-Quran, sehingga mereka bisa mengetahui mana dan apa yang sesungguhnya diturunkan oleh Allah swt.

أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰ ۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.” (QS 13:19)

Pada hari ini kita menjadi saksi dari sejarah umat Islam, bahwa di dalam kalangan umat Islam saat ini sebenarnya telah terjadi perbedaan paham yang jumlahnya banyak sekali. Seluruh perbedaan tersebut bermuara dari satu hal yang sama: ada sebagian umat Islam yang mempergunakan akal mereka untuk mengambil pelajaran dari al-Quran dan ada sebagian lainnya yang tidak mau mempergunakan akal mereka dan hanya bersandar pada dalil-dalil yang mereka pahami.

Padahal sejarah telah membuktikan bagaimana kesudahan orang-orang dan kaum yang tidak mau mempergunakan akal mereka. Seperti halnya kaum Aad, kaum Tsamud atau pun orang-orang Yahudi yang menuruti ajakan Samiri untuk menyembah patung anak sapi. Semuanya itu adalah karena mereka tidak mau mempergunakan akal mereka. Begitulah akhir dari kejadiannya. Oleh sebab itu, maka mari mulai sekarang kita mempergunakan akal kita untuk mengambil pelajaran intisari ajaran al-Quran. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 11.30